TRAINER HEBAT

TRAINER HEBAT

Sabtu, 13 Februari 2016

ETOS KERJA PRIBADI YANG UNGGUL

ETOS KERJA PRIBADI YANG UNGGUL
OLEH :
AKHIRUDIN DC


ETOS KERJA
Apa pengertian etos kerja? Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani; akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang.

Pada Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.

Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa apapun mempunyai etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain.
Kerajinan, gotong royong, saling membantu, bersikap sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya adalah bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada bangsa lain tidak.

Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya.

Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.

Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya.

Bila pengertian etos kerja dire-definisikan, etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat.

Jadi Etos Kerja merupakan totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan sesuatu yang bermakna, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high performance).
Berikut 8 pemahaman tentang etos bekerja (Jansen Sinamo), yaitu:

1.        Kerja adalah Rahmat
Kita harus bekerja tulus penuh rasa syukur. Rahmat adalah pemberian Tuhan yang baik, Kerja adalah rahmat berarti pengakuan bahwa Tuhanlah yang memberi pekerjaan, karena itu harus disyukuri dan direspon dengan rasa terimakasih kepada Tuhan. Karena itu kita bekerja dengan bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberi rahmat setiap hari.

Bekerja dengan tulus akan membuat kita merasakan rahmat lainnya sebagai berikut:
·           Kita dapat menyediakan sandang-pangan untuk keluarga kita dengan gaji yang kita dapat.
·       Kita diberi kesempatan untuk bisa bergaul lebih luas serta meningkatkan kualitas diri ke tingkat yang lebih tinggi hingga kita  bisa tumbuh dan berkembang.
·           Kita bisa memaksimalkan talenta kita saat bekerja.
·      Kita bisa mendapatkan pengakuan dan identitas diri dari masyarakat dan komunitas.
Rahmat adalah kekuatan yang mentransformasikan manusia :
·         Mengubah yang culas menjadi ikhlas.
·         Mengubah yang tercengkeram kemelekatan menjadi mampu bersikap legowo.
·         Mengubah yang terkungkung sikap aji mumpung menjadi bajik dan bijak.
·      Mengubah jiwa-jiwa kerdil menjadi jiwa-jiwa besar : sanggup menerima kekalahan dengan lapang dada bahkan rela mengalah dan dikalahkan.
·    Mengubah yang pendendam menjadi pemaaf : tidak memelihara kebencian dan tidak memupuk sakit hati.
·    Mengubah yang pelit jadi mampu bekerja tulus penuh syukur: tidak pamrih, tidak mengeluh, tidak bersungut-sungut, tidak merengek-rengek, tidak iri pada rezeki orang, dan tidak menuntut apa yang tak patut.
·   Mengubah yang tunduk pada naluri dan hasrat-hasrat rendah menjadi mampu berperilaku mulia sesuai martabat dirinya.
·         Mengubah yang selalu negatif dan reaktif menjadi senantiasa positif dan proaktif

2.      Kerja adalah Amanah
Kita harus bekerja benar dan tanggungjawab. Amanah adalah titipan Tuhan yang dipercayakan kepada pekerja, kepada manusia. Sebagai penerima amanah, maka setiap pekerja berkewajiban menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Pemberian titipan Tuhan, berarti pekerja diberi kepercayaan oleh Tuhan, karena itu sebagai orang yang dipercayai Tuhan, pekerja harus melaksanakan amanah dengan bertanggungjawab, dengan integritas. karena itu kita bekerja dengan penuh tanggung jawab sebagai respon terhadap titipan Tuhan yang Maha Baik.

Amanah melahirkan sebuah sikap tanggung jawab, dengan demikian maka tanggung jawab harus ditunaikan dengan baik dan benar bukan hanya sekedar formalitas. Rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang didelegasikan kepada kita akan menumbuhkankehendak kuat untuk melakasanakan tugas dengan benar sesuai job description untuk mencapai target yang ditetapkan.

3.      Kerja adalah Panggilan
Kita harus bekerja tuntas penuh integritas. Panggilan Suci berarti panggilan dari Yang Kuasa dan sesuatu yang tidak bercela. Orang yang terpanggil seyogianya mensyukuri panggilan sebagai utusan Tuhan. Karena itu bekerja adalah menyampaikan dan menyebarluaskan pesan (messages) dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka pekerja dapat juga dimaknai sebagai Messengger of God. Tugas suci sebagai pekerja adalah menyebarluaskan kebenaran melalui pekerjaan.

Dalam konteks pekerjaan, panggilan umum ini memiliki arti bahwa apa saja yang kita kerjakan hendaknya memenuhi tuntutan profesi. Profesi yang kita jalani untukmenjawab panggilan kita sebagai akuntan, hakim, dokter, dsb. Agar panggilan dapat diselesaikan hingga tuntas maka diperlukan integritas yang kuat karena dengan memegang teguh integritas maka kita dapat bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita secara total, utuh dan menyeluruh.

4.      Kerja adalah Aktualisasi
Kita harus bekerja keras penuh semangat. Aktualisasi adalah untuk mewujudkan keberadaan yang sesungguhnya, secara tegasnya adalah untuk mewujudkan dan megubah potensi menjadi kompetensi yang bermuara pada hasil, output dan outcomes. Karena itu bekerja adalah mengeksplorasi segala talenta, bakat dan untuk menjadi produk yang bermanfaat. Untuk itu perlu usaha dan upaya yang sungguh-sungguh supaya potensi, bakat dan talenta tidak terkubur dalam diri setiap pekerja, sebaliknya potensi dan bakat itu menjadi buah yang ranum yang akan dinikmati oleh semua orang.

Aktualisasi adalah kekuatan yang kita pakai untuk mengubah potensi menjadi realisasi. Tujuan dari sikap aktual ini adalah agar kita terbiasa bekerja keras dan selalu tuntas untuk mencapai mimpi dan keinginan kita tanpa merubah diri kita menjadi pecandu kerja. Ada tiga cara mudah untuk meningkatkan etos kerja keras, yaitu:
·           Kembangkanlah visi sebagai ilham untuk bekerja keras.
·           Kerja keras merupakan ongkos untuk mengembangkan diri kita.
·           Kerja keras itu baik, menyehatkan dan menguatkan diri kita.

5.      Kerja adalah Ibadah
Kita harus bekerja serius penuh khusyu. Melakukan ibadah tidak hanya di rumah ibadah atau di tempat-tempat acara ibadah. Ibadah yang sangat kontekstual justru dilakukan dalam pekerjaan. Dengan bekerja kita melakukan ibadah, sudah tentu kerja yang ibadah adalah kerja yang dilakukan dengan tujuan memuliakan Tuhan dan membantu sesama manusia. Karena itu setiap pekerja semestinya mewujudkan pekerjaan dan tugasnya sebagai ibadah kepada Tuhan. Bekerja dengan totalitas pengabdian kepada Tuhan itulah ibadah yang sesungguhnya. Bekerja sebagai ibadah dengan memuliakan Tuhan sebagai hubungan vertikal, bekerja sebagai ibadah dengan hubungan horizontal, adalah berbuat kebaikan dan kebajikan kepada manusia.

Segala pekerjaan yang diberikan Tuhan kepada kita harus kita syukuri dan lakukan dengan sepenuh hati. Tidak ada tipe atau jenis pekerjaan yang lebih baik dan lebih rendah dari yang lain karena semua pekerjaan adalah sama di mata Tuhan jika kita mengerjakannya dengan serius dan penuh kecintaan. Berbekal keseriusan itu maka hasil yang akan kita peroleh juga akan lebih dari yang kita bayangkan, begitu pula jika pekerjaan yang kita lakukan didasarkan oleh rasa cinta. Seberat apapun beban pekerjaan kita, berapapun gaji yang kita dapatkan dan apapun posisi yang kita pegang akan memberikan nilai moril dan spirituil yang berbeda jika semua didasari dengan rasa cinta. Jadi ingat, bekerja serius penuh kecintaan akan melahirkan pengabdian serta dedikasi terhadap pekerjaan.

6.      Kerja adalah Seni
Kita harus bekerja kreatif dan sukacita. Semua orang menyenangi keindahan, menyukai harmoni. Keindahan dan harmoni adalah seni, maka kerja sesungguhnya juga adalah seni. Bekerja adalah mengkesplorasi semua kreatifitas untuk menciptakan keindahan dan harmoni. Meyakini, memahami dan melaksanakan kerja sebagai seni akan membuat setiap pekerja melakukan kerja dengan sepenuh cinta. Ia mampu menghasilkan produk-produk yang indah dan menawn. Karena itu bekerja adalah mengeksplorasi semua kreativitas manusia menjadi sesuatu yang mempunyai  cinta dan keindahan.

Bekerja keras itu perlu, namun bekerja dengan cerdas sangat dibutuhkan. Kecerdasan disini maksudnya adalah menggunakan strategi dan taktik dengan pintar untuk mengembangkan diri, memanfaatkan waktu bekerja agar tetap efektif dan efesien, melihat dan memanfaatkan peluang kerja yang ada, melahirkan karya dan buah pikiran yang inovatif dan kreatif. Hasilnya, tentu saja daya cipta kita bukan hanya disenangi oleh pemimpin perusahaan tetapi juga oleh orang lain karena semua yang kita hasilkan itu adalah karya seni.

7.      Kerja adalah Kehormatan
Kita harus bekerja tekun dan unggul. Menerima hasil atau upah dari pekerjaan adalah kehormatan, karena bekerja adalah penghargaan kepada kemampuan dan keunggulan seseorang. Seseorang menerima pekerjaan adalah seseorang yang menerima kehormatan. Orang yang menerima kehoramatan harus menjaga kehormatan itu dengan segala upaya yang bisa dilakukan. Jadi kalau anda ditugaskan untuk melakukan sesuatu, itu artinya ada diberikan kehormatan untuk menyelesaikannya. Karena itu bekerja haruslah dilakukan dengan segala ketekunan.

Kehormatan diri bisa kita dapatkan dengan bekerja. Melalui pekerjaan, maka kita dihormati dan dipercaya untuk memangku suatu posisi tertentu dan mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita termasuk segala kompetensi diri yang kita miliki, kemampuan dan kesempatan dalam hidup. Rasa hormat yang terbentuk dalam diri kita akan menumbuhkan rasa percaya diri yang akan meningkatkan keinginan kita untuk bekerja lebih tekun.

8.      Kerja adalah Pelayanan
Kita harus bekerja sempurna dan rendah hati. Melayani adalah memberikan yang terbaik kepada kastemer, jadi seorang yang bekerja melayani orang lain, melayani kastemer adalah memberikan kualitas terbaik. Pekerja yang demikian adalah orang-rang yang mulia. Seorang Menteri tugasnya adalah melayani, yang dilayani adalah masyarakat dan pihak lain yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Menteri melayani Gubernur, melayani Walikota, melayani Bupati, supaya Gubernur, Bupati dan Walikota bisa melayani masyarakat dengan baik. Mother Theresa melayani orang yang termiskin dari yang melarat di India. Mother Theresa adalah pelayan yang mulia. Bekerja adalah pelayanan. Karena itu setiap pekerja harus melayani dengan sepenuh hati dengan kemuliaan hati. Setiap pekerja adalah orang mulia.

Tahukah Anda kalau ternyata hasil yang kita lakukan dalam bekerja bisa menjadi masukan untuk orang lain dan begitu pula sebaliknya. Sehingga dari proses tersebut kita telah memberikan kontribusi kepada orang lain agar mereka bisa hidup dan beraktivitas dengan lebih mudah. Jadi, bekerja juga bisa kita golongkan sebagai salah satu bentuk pelayanan kita terhadap orang lain.

ETOS KERJA DALAM ISLAM
Etos Kerja Muslim didefenisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal shaleh. Sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang Muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian sebagaimana firman Allah, “Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, (QS. adz-Dzaariyat : 56).

Bekerja adalah fitrah dan merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang Muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah SWT.

Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal kreatif, sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, dan menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia.

Setiap Muslim selayaknya tidak asal bekerja, mendapat gaji, atau sekedar menjaga gengsi agar tidak dianggap sebagai pengangguran. Karena, kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab merupakan salah satu ciri yang khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim.

Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk menjadi pengangguran, apalagi menjadi manusia yang kehilangan semangat inovatif. Karena sikap hidup yang tak memberikan makna, apalagi menjadi beban dan peminta-minta, pada hakekatnya merupakan tindakan yang tercela.

Seorang Muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang merupakan bagian amanah dari Allah.

Hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Bahkan Seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhu. Pernah berkata:
“Bekerjalah engkau untuk kepentingan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah engkau untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”

Ungkapan ini mengandung berbgai pemahaman, diantaranya:
·           Ada anggapan bahwa kita harus hidup seimbang, antara dunia dan akhirat.
·           Ungkapan tersebut maknanya justru KEBALIKAN dari makna pertama. Artinya, ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa akhirat lebih utama dibanding dunia. Apa buktinya? Buktinya bahwa untuk urusan akhirat harus disegerakan (karena waktunya sempit, yaitu besok), dan urusan dunia boleh ditunda (karena waktunya masih panjang yaitu hidup selama-lamanya).

Perlu juga kita pahami bahwa yang namanya masalah keduniaan tidak selalu soal dunia, dan masalah keakhiratan tidak selalu soal akhirat. Bisa jadi, suatu perbuatan kelihatannya dunia, namun sebenarnya ia bernilai akhirat. Contoh: seorang pebisnis yang berbisnis untuk menafkahi keluarganya. Lalu ia tidak lupa bersedekah, berzakat, dan membantu orang lain.
Bisa jadi, suatu perbuatan kelihatannya akhirat, namun sebenarnya ia bernilai dunia. Contoh: membantu korban bencana sambil menonjolkan dirinya/partainya. Di sini perbuatannya bernilai dunia, yaitu pamrih ingin dipuji sebagai orang yang peduli atau dipuji sebagai partai yang pro rakyat.

Jadi, perbuatan apapun yang bernilai akhirat, maka itu perlu diprioritaskan. Tentu saja dengan niat yang benar.

Jika niatnya akhirat, maka dunia akan ikut terbawa.
Jika niatnya dunia, maka akhirat tidak akan ikut terbawa.
Karena hasil akhirnya akan ditentukan dengan niat/tujuannya awalnya.


Praktek kehidupan yang memiliki etos kerja tinggi adalah menyahuti firman Allah swt, artinya: Dan katakanlah : "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS At-Taubah, 9 : 105)

Sejarah Islam juga mengamanatkan bahwa Rasulullah SAW menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Rasul bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi.Beliau bekerja untuk meraih keridaan Allah SWT. Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa'ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. "Kenapa tanganmu?" tanya Rasul kepada Sa'ad. "Wahai Rasulullah," jawab Sa'ad, "Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku". Seketika itu beliau mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata, "Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka".
Selain itu kesuksesan karier dan pekerjaan Rasulullah SAW dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini:

Pertama, Rasul selalu bekerja dengan cara terbaik, profesional, dan tidak asal-asalan. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah menginginkan jika salah seorang darimu bekerja, maka hendaklah meningkatkan kualitasnya".

Kedua, dalam bekerja Rasul melakukannya dengan manajemen yang baik, perencanaan yang jelas, pentahapan aksi, dan adanya penetapan skala prioritas.

Ketiga, Rasul tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. "Barangsiapa yang dibukakan pintu kebaikan, hendaknya dia mampu memanfaatkannya, karena ia tidak tahu kapan ditutupkan kepadanya," demikian beliau bersabda.

Keempat, dalam bekerja Rasul selalu memperhitungkan masa depan. Beliau adalah sosok yang visioner, sehingga segala aktivitasnya benar-benar terarah dan terfokus.

Kelima, Rasul tidak pernah menangguhkan pekerjaan. Beliau bekerja secara tuntas dan berkualitas.

Keenam, Rasul bekerja secara berjamaah dengan mempersiapkan (membentuk) tim yang solid yang percaya pada cita-cita bersama.

Ketujuh, Rasul adalah pribadi yang sangat menghargai waktu. Tidak berlalu sedetik pun waktu, kecuali menjadi nilai tambah bagi diri dan umatnya.

Kedelapan, Rasulullah SAW menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Rasul bekerja bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridhaan Allah SWT.

Memperhatikan spirit al-Qur’an dan praktek kehidupan Nabi Muhammad SAW maka dapat dikatakan bahwa produktivitas kerja Muslim merupakan sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal saleh. Sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang Muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian.

Pemahaman sejenis ini akan menjadikan seorang Muslim yang memiliki produktivitas kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang merupakan bagian amanah dari Allah. Amanah itu adalah harapan yang harus diwujudkannya. Harapan (hope) hanya bisa diraih bila memenuhi kualitas kepribadian.

Kualitas bukan sekedar hasil, melainkan sebuah proses dari keterpanggilan hati. Kualitas adalah gambaran yang menjadi obsesi bagi setiap pribadi yang memiliki etos kerja. Kualitas adalah proses yang secara konsekuen menapaki jalan yang lurus. Dalam dunia usaha atau lapangan pekerjaan jalan yang lurus tidak lain adalah seluruh komitmen yang dijabarkan dalam ‘standard of procedure’ yang mencakup seluruh komitmen diri terhadap perusahaan. Setiap karyawan yang memiliki etos kerja tidak akan mengabaikan begitu saja seluruh proses yang ada karena setiap kalimat dari prosedur merupakan hasil dari buah pemikiran dan kesepakatan. Ia akan yakin bilamana prosesnya berkualitas niscaya akan berakhir dengan hasil yang berkualitas pula. Salah satu kata kunci dari kualitas perusahaan adalah terletak pada kualitas yang dimiliki oleh setiap individu dari perusahaan tersebut.

“Heart of Change” by John Kotter
70% transformasi yang pernah dilakukan gagal karena hanya menggunakan “Kepala (Head)” tanpa “Hati (Heart)” Pemimpin yang berhasil dalam melakukan tranformasi adalah mereka yang melibatkan aspek “Hati (Heart)” yaitu nilai yang terdalam dari anggota timnya.


Kualitas berpikir (quality of your head) berarti kemampuan untuk mengorganisir seluruh unsur yang ada dilingkungan kita dengan mendayagunakan informasi yang tersedia. Kemampuan untuk menggambarkan sesuatu dalam bentuk yang abstrak, konseptual, yang kemudian memberikan kemampuan diri untuk mengambil keputusan, memecahkan persoalan-persoalan bahkan berpikir secara kreatif dan inovatif.

Berpikir berarti mengumpulkan informasi, mengolah dan kemudian mereproduksikannya dalam bentuk yang sesuai dengan yang diinginkannya. Bertambah banyak informasi berkualitas yang diperoleh, akan bertambah baik pula kemampuan dalam mengambil keputusan dan memecahkan persolan. Sehingga proses berpikir sangat erat kaitannya dengan pengalaman yang pernah dimiliki, yang berhubungan dengan berbagai informasi dan masalah.
Sebuha contoh dua anak kembar sekalipun belum tentu memiliki kemampuan berpikir yang sama, tergantung pada sejauh mana masing-masing anak tersebut memperkaya pengalaman batinnya masing-masing. Itulah sebabnya dalam dunia manajemen sumber daya manusia, peranan pendidikan dan pelatihan yang terus menerus merupakan cara perusahaan untuk menanamkan investasi SDM (human investment) yang suatu saat akan memperkuat kualitas perusahaan tersebut. Pelatihan yang terkait dengan sikap tidak akan terasa kapan perubahannya, tetapi perubahan tersebut pasti ada. Sejalan dengan jawaban atas pertanyaan,’Sejak kapan, jam berapa dan tanggal berapa kita bisa berbicara dalam bahasa kita sendiri?’. Pada dasarnya pelatihan dapat dibagi menjadi dua, yang pertama pelatihan yang terkait dengan ketrampilan dan pengetahuan (skill and knowledge) dan yang kedua terkait dengan sikap perilaku (attitude). Yang pertama merupakan kebutuhan pelatihan dalam bidang teknis yang secara umum sangat mudah diukur dan dilihat parameternya. Misalnya kemampuan seorang karyawan yang awalnya belum mengetahui software komputer. Setelah dilatih dalam bebarapa hari akan terlihat secara signifikan hasilnya. Yang kedua terkait dengan motivasi dan perubahan sikap. Hal ini tidak dapat secara spontan terlihat hasilnya. Ini membutuhkan waktu dan dukungan lingkungan atau organisasi dimana karyawan tersebut berada. Seorang karyawan yang telah mengikuti Achievement Motivation Training, akan sangat termotivasi dan ingin berbuat banyak. Tetapi akan tidak dapat berbuat banyak apabila sistem yang ada didalam perusahaan bahkan pemimpinnya belum memiliki paradigma yang sama.

Kualitas hati (quality of heart) berkaitan dengan kualitas moral seseorang atau dikenal dengan istilah Spiritual Intelligent, yaitu tanggungjawab atas dasar cinta kepada Illahi. Kualitas moral akan lebih menggetarkan hati bila dimulai dari prinsip-prinsip dasar atau keyakinan seseorang. Itulah sebabnya, kebutuhan yang paling mendasar bagi seorang karyawan saat ini bukan hanya terkait dengan ketrampilan dan pengetahuan (quality of your hand and quality of your head), tetapi juga ketajaman nilai-nilai moral. Adapun pelatihan-pelatihan yang diasah berdasarkan nilai-nilai religius terasa sangat sedikit dan pada umumnya perusahaan-perusahaan banyak memilih pelatihan moral yang bersifat umum pula. Padahal banyak peserta yang setelah mengikuti Spiritual Management Training dan Etos Kerja merasakan adanya pencerahan batin, dan mengakui telah menghentikan kebiasaan-kebiasaan jeleknya termasuk datang ke kantor menjadi lebih tepat waktu dibanding sebelumnya.

Maka dibutuhkan amal (quality of hand) atau kerja keras (Hard Working) yang nyata untuk mewujudkan harapan (hope) kita menjadi manusia yang berprestasi, berkualitas dan produktif dalam bekerja. Dengan demikian etos kerja berkaitan erat dengan harapan serta cara dirinya memberikan makna terhadap pekerjaan itu sendiri.

Etos Kerja Tinggi akan melahirkan percaya diri dan optimis,
Jiwa yang merdeka, Allah always in my heart,
Berwawasan, Memiliki kemampuan bersaing,

Berpikir positif, Memiliki harga diri dan berorientasi ke depan (visioner).

Minggu, 22 November 2015

HIDUP SEIMBANG HIDUP BAHAGIA
@akhirudindc

Balance Life atau Keseimbangan kehidupan adalah cara bekerja dengan tidak mengabaikan semua aspek kehidupan kerja, pribadi, keluarga, spiritual, dan sosial.
Keseimbangan dalam kehidupan dan pekerjaan akan menghasilkan kemampuan di dalam diri, untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, serta membuat diri selalu siap dan berdaya tahan penuh, untuk melayani semua tanggung jawab dengan totalitas.
Di tempat kerja, bila semua karyawan mampu menciptakan keseimbangan dalam kehidupan dan pekerjaan, maka mereka akan menghabiskan jam-jam kerjanya dengan produktif. Hal ini akan membuat setiap karyawan memiliki kesadaran untuk berkontribusi dan memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka juga akan terhindar dari budaya mengeluh, yang biasanya menjadi racun yang merusak etos kerja.
Kecerdasan untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan kerja akan menciptakan kualitas kerja yang unggul, serta membuat lingkungan kerja sehari-hari lebih menyenangkan dalam disiplin dan gairah kerja yang terarah menuju prestasi puncak.
Etos kerja yang unggul akan muncul saat terjadi keseimbangan dalam keluarga dan pekerjaan. Artinya, seseorang yang sudah mampu bekerja dalam keseimbangan hidup akan memiliki kesadaran, manajemen diri, motivasi diri, dan tanggung jawab yang sifatnya holistik, untuk bekerja dengan totalitas dalam upaya menghasilkan kinerja terbaik untuk karir dan keluarganya.
Buku Hidup Seimbang = Hidup Bahagia / The Balance Life = Beautiful Life akan mengarahkan pembaca pada hal berikut ini :
Ø  Mencapai keseimbangan hidup.
Ø  Memotivasi diri sendiri; mengembangkan keseimbangan hidup dan pekerjaan.
Ø  Meningkatkan kualitas manajemen diri untuk hidup dalam multi peran dan fungsi.
Ø  Meningkatkan kualitas hidup melalui aspek keuangan, kesehatan, keharmonisan, hubungan, spiritual, emosional, intelektual, pekerjaan, dan sosial.
Ø  Bekerja dengan sikap dan cara holistik yang lebih ikhlas dan tulus.
Ø  Memiliki sikap positif untuk mengatasi kelelahan mental, jiwa, dan tubuh.
Menjadi visioner, inovatif, saling menghargai, terbuka dan jujur.

Rabu, 30 September 2015

HIDUP SEIMBANG

APA PERLUNYA HIDUP SEIMBANG
@akhirudindc

Buku Hidup Seimbang = Hidup Bahagia / The Balance Life = Beautiful Life akan mengarahkan pembaca pada hal berikut ini :
  • Mencapai keseimbangan hidup.
  •  Memotivasi diri sendiri; mengembangkan keseimbangan hidup dan pekerjaan.
  •  Meningkatkan kualitas manajemen diri untuk hidup dalam multi peran dan fungsi.
  •  Meningkatkan kualitas hidup melalui aspek keuangan, kesehatan, keharmonisan, hubungan, spiritual, emosional, intelektual, pekerjaan, dan sosial.
  • Bekerja dengan sikap dan cara holistik yang lebih ikhlas dan tulus.
  • Memiliki sikap positif untuk mengatasi kelelahan mental, jiwa, dan tubuh.
  • Menjadi visioner, inovatif, saling menghargai, terbuka dan jujur.

Selasa, 22 September 2015

HAJI DAN QURBAN

HAJI DAN QURBAN

Idul Adha juga merupakan hari istimewa, karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar Allah SWT yang harus dihormati dan diagungkan oleh setiap orang yang beriman dan bertaqwa. Mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya :
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. ( QS.Al-Hajj: 32)
Kedua ibadah agung ini, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban, tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah.  Jika posisi seseorang jauh dari Allah, sungguh ia akan mengatakan “lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya - daripada pergi ke Makkah menjalankan ibadah haji ataupun ziarah ke Madinah”. Namun bagi hamba-Nya yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya, dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” lebih baik aku memenuhi seruan-Mu Ya Allah.  Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun bagi hamba yang dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala apa yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.
Simbol manusia yang begitu dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar Khalilullah (kekasih Allah) adalah Ibrahim a.s.. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara totalitas kepada Allah, tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.
Dalam ibadah haji, peran Ibrahim a.s. tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim a.s. yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya dalam surah Al-Hajj ayat 26-27 :
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan) :Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ serta sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 26-27).
Ibadah haji ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram’ yang mencerminkan sikap tawaddu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Dengan penuh khusyu’ dan tawaddu’, seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh perintahNya.
Dalam proses bimbingan spritual yang cukup panjang, seseorang akan diuji pada hari berikutnya, dengan melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syaitan dan terhadap setiap yang menghalangi kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya diarahkan hanya untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah, dan dalam ibadah thawaf keliling satu titik fokus yang bernama ka’bah. Titik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia :
Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.  (Al-An’am: 162)
Akhirnya dengan modal keyakinan, seseorang akan sanggup berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan dan ridha Allah swt dalam bentuk sa’i antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikianlah ibadah haji yang sarat dengan pelajaran, yang ditampilkan oleh Ibrahim a.s. dan keluarganya.

Dalam ibadah qurban, Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan kepatuhannya yang totalitas dengan harus menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama, sebagaimana disebutkan dalam suroh Ash-Shaffat 102 :
 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”(Ash-Shaffat:102).  Begitulah biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya.
Andaikan Ibrahim manusia yang dha’if, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua pilihan yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya, Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw.
Dr. Ali Syari’ati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Isma’il adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan kita cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita? Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il yang karenanya kita akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya:
Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“. (At-Taubah: 24)
Oleh karena itu, dengan melihat keteladanan dan pengorbanan yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim atapun Isma’il a.s., ... apapun yang kita miliki dan yang kita cintai, maka kurbankanlah manakala Allah SWT menghendaki-Nya. Janganlah kecintaan kita terhadap isma’il-isma’il itu akan membuat kita lupa kepada Allah.  Tentu negeri kita tercinta ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim-Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan ummat meski harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya, untuk menyelamatkan rakyat dan bangsa dari kemerosotan dan keterpurukan akibat runtuhnya nilai-nilai dan semangat berkurban, yang kemudian didominasi oleh sikap egois, mementingkan diri sendiri, keserakahan dan kerakusan oleh sementara orang.
Ketaatan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah ketaatan yang ditunjukkan oleh Ismail a.s. untuk memenuhi tugas bapaknya nabi Ibrahim a.s. Pertanyaan yang timbul adalah : Kenapa Isma’il seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya ? Bagaimanakah Isma’il mampu memiliki kepatuhan yang begitu tinggi ?  Sesungguhnya Nabi Ibrahim a.s. senantiasa berdoa :
“Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (Ash-Shaffat: 100).
Maka Allah mengabulkan doanya :
 “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. (Ash-Shaffat: 101).
Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran orang tuanya dalam proses pembimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang amat sabar dan yang santun, yang memiliki kemampuan mensinergikan antara rasio dengan akal budi, tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang begitu panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah :

“Wahai bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, niscaya kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”.  (Ash-Shaffat: 102)
Orang tua mana yang tidak terharu dengan jawaban seorang anak yang rela menjalankan perintah Allah yang dibebankan dipundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah pentingnya didikan agama bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’.
Setelah mencermati dua pelajaran kehidupan keberagamaan yang sangat berharga di atas, Prof. Dr. Mushthafa Siba’i pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati kita semua : “Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain ? Ataukah ia akan menjadi pribadi yang mementingkan orang lain, dan kemudian mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri ?
Memang manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri, ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya. Namun berkat tuntunan agama seseorang akan mampu menjadikan dirinya mencintai orang lain sehingga ia akan bersedia untuk berkorban demi kepentingan orang lain.  Dengan tuntunan itulah, maka agama akan mampu meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
 “Tidaklah beriman seorang diantara kamu sehingga ia menyintai saudaranya sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri” (HR. Buchori).
Ungkapan Az-Zamakhsyari berikut ini menggambarkan apa yang telah dilakukan oleh ulama salaf dalam bidang ilmu pengetahuan untuk kepentingan ummat manusia masa sekarang : “Aku begadang untuk mempelajari dan meneliti ilmu pengetahuan, lebih ni`mat bagiku dibandingkan bersenda gurau dan bersenang-senang dengan wanita yang cantik. Aku bergerak kesana kemari untuk memecahkan satu masalah ilmu pengetahuan lebih enak dan lebih menarik seleraku dibandingkan hidangan yang lezat”.
Kita sadar bahwa kita semua telah berhutang budi kepada para pendahulu, perintis pejuang kemerdekaan. Kita telah berhutang budi kepada generasi sebelumnya sehingga kita dapat merasakan kenikmatan saat ini sebagai pengorbanan, perjuangan mereka. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita. Akankah generasi kita saat ini mampu menghargai makna pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain ? Apakah generasi kita mampu mempertahankan akhlak luhur yang memang telah diperintahkan oleh Allah SWT ? Allah telah memberi kan isyarat sebagaimana termaktub dalam surah Al-Hasr ayat  9 :
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr : 9)

‘Idul Adha hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwah, pengorbanan serta semangat mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim di bumi Indonesia tercinta ini, yang layak menjadi contoh tauladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Selasa, 15 September 2015

SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA I

SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA I
@akhirudindc

A.    Pengertian Sistem , Komunikasi, dan Sistem Komunikasi
1.     Sistem
Sistem berasal dari bahasa Yunani “Sistema” yang berarti suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian dan hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur. (Shrode dan Voich, dalam Nurudin, 2004).  Serupa dengan pendapat Shrode dan Voich, Littlejohn(1999) mengartikan sistem sebagai seperangkat hal-hal yang saling mempengaruhi dalam suatu lingkungan dan membentuk suatu keseluruhan (sebuah pola yang lebih besar yang berbeda dari setiap bagian-bagiannya).
Ciri-ciri Sistem :
a)     Perilaku memiliki Tujuan Tertentu
b)     Meliputi jumlah dan bagian-bagian tertentu
c)     Transformasi, menciptakan sesuatu yang mempunyai nilai.
d)     Keterbukaan, saling berhubungan.
e)     Antar Hubungan, antara bagian harus saling cocok sama lain.
f)      Mekanisme Kontrol, harus ada kekuatan untuk mempersatukan.

2.   Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama, sama di sini maksudnya adalah sama makna. Menurut Everett M. Rogers, komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah perilaku. Sementara Harold D. Laswell memformulasikan proses komunikasi dengan who (siapa), says what (mengatakan apa), in which channel (lewat saluran apa), to whom (kepada siapa) with what effect (efek apa yang diharapkan).

3.   Sistem Komunikasi
Teori sistem telah memiliki suatu pengaruh utama pada studi komunikasi manusia. Beberapa pelopor adalah:
Ø  Gregory Bateson (dalam Littlejohn, 1999) adalah penemu garis teori yang kemudian dikenal sebagai komunikasi relasional. Ia berpendapat bahwa dalam berkomunikasi (sebagai wujud suatu sistem) peserta komunikasi menyampaikan suatu pesan yang memuat makna mendua dan hubungan  komplementaris atau simetris. Pengertian pesan bermakna mendua, yaitu pesan yang memuat isi pesan (content message) dan pesan memuat hubungan (relationship massage). Pengertian hubungan komplementer, adalah satu bentuk perilaku diikuti oleh perlaku lawannya yang bersifat melengkapi. Dalam simetri, aksi seseorang diikuti oleh aksi sejenis oleh orang lainnya. Disini mulai telihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur sistem, bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki.
Ø  Aubre Fisher (dalam perspectives on Human Communication) menerapkan konsep-konsep sistem pada komunikasi. Analisisnya dimulai dengan perilaku seperti komentar verbal dan aksi-aksi nonverbal sebagai unit terkecil dari analisis dalam sistem komunikasi. Perilaku-perilaku yang dapat diobservasi ini (suatu pesan) merupakan kendaraan satu-satunya untuk menghubungkan individu dalam suatu sistem komunikasi. Fisher percaya bahwa aliran pembicaraan ini dengan sendirinya mengatakan sedikit tentang sistem komunikasi.
Berangkat dari pengertian-pengertian diatas, sistem komunikasi dapat diartikan sebagai seperangkat hal-hal tentang proses, mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang yang berhubungan satu sama lain menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai satu kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi.

B.    Nilai-nilai, Norma-norma dan Hukum dalam Sistem Komunikasi Indonesia
1.     Nilai-nilai dalam Sistem Komunikasi Indonesia
Segala hal yang dianggap bernilai tinggi bagi kehidupan individu sebagai anggota masyarakat disebut nilai hidup. Nilai hidup merupakan pedoman tertinggi bagi pikiran, perasaan, sikap dan tingkah laku di dalam masyarakat. Soekandar Wiriatmaja mengemukakan, bahwa nilai hidup diartikan sebagai suatu kesanggupan (kapasitas) suatu barang, gagasan maupun isi pengalaman yang dapat memenuhi keinginan manusia dan dijadikan pegangan hidupnya. Bisa juga terjadi bahwa nilai hidup itu serupa bagi suatu kelompok manusia, karena mereka telah mengalami proses sosialisasi yang sama dalam kebudayaan yang sama. Jadi ada nilai hidup perorangan, nilai hidup suatu kelompok dan nilai hidup suatu masyarakat. Isi dari nilai hidup tersebut biasanya antara lain mencakup :
Ø  Nilai kepercayaan. Umpamanya, kepercayaan kepada hal-hal yang gaib (seperti makhluk halus, dewa-dewi, hal-hal yang keramat dan bertuah dan lain-lain) dan keagamaan (religi).
Ø  Nilai pandangan (falsafah) hidup. Umpamanya, bagaimana pandangan dalam berinteraksi dengan alam (apakah harus tunduk, menyelaraskan diri atau harus menaklukkan alam), pandangan terhadap waktu (apakah berpedoman pada waktu lampau, waktu sekarang atau waktu yang akan datang), hakikat kerja (bekerja untuk apa selama hidup ini), dan sebagainya.
Ø  Nilai pergaulan hidup. Umpamanya, sopan santun (tata krama), budi pekerti, tolong menolong dan lain-lain.

2.     Norma-norma dalam Sistem Komunikasi Indonesia
Batasan-batasan yang tumbuh dalam masyarakat untuk mengatur tertib tingkah laku hubungan atau interaksi dinamakan norma sosial. Bentuknya dapat tertulis maupun tidak tertulis. Menurut Bouman (1976) norma sosial diartikan sebagai suatu peraturan umum mengenai kelakuan atau perbuatan yang didasari oleh pertimbangan-pertimbangan kesusilaan, kebiasaan atau paham yang sehat. Agar anggota masyarakat menaati segala norma yang ada dalam masyarakat bersangkutan, maka dibuatlah sanksi-sanksi. Bentuk sanksi tersebut dapat berupa penghargaan dan dapat juga berupa hukuman masyarakat yang disebut juga sanksi sosial. Norma sosial sangat penting bagi keutuhan masyarakat. Sebab dengan norma sosial semua anggota masyarakat dapat mengatur cara hidupnya secara harmonis dan tidak bertentangan satu sama lain. Sehubungan dengan kekuatan norma beserta sanksinya, dikenal adanya empat klasifikasi sebagai berikut:
Ø  Cara (usage), menunjukkan pada suatu bentuk perbuatan daya pengikat norma ini sangat lemah, bahkan tidak mengikat sama sekali. Norma ini lebih menonjol di dalam hubungan antara individu dalam masyarakat.
Ø  Kebiasaan (folksways), diartikan sebagai suatu perbuatan yang diulang dalam bentuk yang sama, merupakan suatu bukti bahwa orang banyak menyukai perbuatan tersebut. Kekuatan mengikatnya lebih besar daripada norma cara.
Ø  Tata kelakuan (mores), daya pengikat norma ini lebih kuat jika dibandingkan dengan norma kebiasaan. Dengan demikian sanksi bagi tata kelakuan juga lebih kuat mengikat anggota masyarakat. Suatu kebiasaan yang tidak semata-mata dianggap sebagai cara berperilaku, akan tetapi juga diterima sebagai norma pengatur, dinamakan tata kelakuan. Tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggotanya.
Ø  Adat istiadat (customs), diartikan sebagai suatu tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perikelakuan masyarakat. Anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat, akan menderita sanksi yang keras.
Dalam hubungan dengan komunikasi, nilai-nilai (juga norma-norma sosial) mempunyai hubungan yang sangat signifikan. Eillers (1995) merumuskannya bahwa nilai-nilai disampaikan secara implisit dan eksplisit melalui tingkah laku simbolis. Kebanyakan dari tingkah laku manusia melambangkan dan merupakan ekpresi nilai-nilai yang kita terima dari belajar atau proses pembudayaan. Tingkah laku itu terutama diungkapkan melalui komunikasi nonverbal dan juga komunikasi verbal. Cara berkomunikasi dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut. Bagaimana memutuskan alat yang digunakan, cara menggunakan, menyandi pesan dipengaruhi oleh nilai-nilai.

3.     Hukum dalam Sistem Komunikasi Indonesia
Sistem komunikasi Indonesia mempunyai dasar hukum. Secara tersirat terdapat dalam mukadimah UUD 1945 khususnya pada alinea ke empat. Secara tersurat terdapat pada pasal 28F yang berbunyi: Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Selain diatur dalam hukum dasar negara Indonesia, peraturan dalam berkomunikasi dapat mengacu pada: Undang-undang 32 tahun 2002; Undang-undang 40 tahun 1999; Undang-undang 36 tahun 1999; Undang-undang 8 tahun 1992; KUHP (terdapat beberapa pasal yang mengatur tentang komunikasi) dan sebagainya.


Senin, 14 September 2015

HIDUP SEIMBANG = HIDUP BAHAGIA

HIDUP SEIMBANG = HIDUP BAHAGIA

“Hidup dijaga oleh Hukum Keseimbangan.Jika seseorang akan dibuat mengerti sesuatu yang hanya bisa dimengerti melalui mengalami, maka akan dimediasi sedemikian rupa sehingga terjadi Pembuktian Terbalik (Pencerminan) dengan media cermin orang yang mempunyai hubungan dekat agar dirinya tidak bisa memungkiri dan menghindar dengan jangka waktu terjadinya sesuai dengan terpenuhinya semua parameter penentu. Waktu fungsi parameter”. @akhirudindc