TRAINER HEBAT

TRAINER HEBAT

Selasa, 04 Juni 2013

KEJUJURAN YANG SEIMBANG


KEJUJURAN YANG SEIMBANG

 
1.      Jujur kepada diri sendiri
Kejujuran adalah lawan kata dari kebohongan. Dan orang orang yang berbohong adalah orang yang menipu dirinya sendiri, menipu Allah dan menipu masyarakat luas. Orang yang tidak jujur karena ia tampil sebagai seorang yang berjiwa pengecut atau moral cowardice, yang kehilangan keperibadiannya untuk menutupi kelemahan-kelemahan dirinya (weakness recovery). Islam sebagai suatu agama pada dasarnya mengajarkan pemeluknya untuk jujur. Sholat misalnya, salah satu dimensi moral yang dilahirkannya adalah kejujuran. Kita tidak pernah mendengar ada orang yang menipu jumlah rakaat dalam sholatnya, biarpun ia sholat sendirian.
Orang tidak akan pernah jujur selama ia tidak memiliki makna hidup yang sebenarnya, yaitu berpihak kepada kebenaran. Jujur kepada diri sendiri berarti memulai dengan sikap disiplin, taat dan mengakui batas kemampuan yang dimiliki serta menyadari kelemahan dirinya. Orang yang jujur pada dirinya sendiri adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya untuk tidak melaksanakan kehendak apabila keinginannya tidak sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Dia tidak akan melakukan suatu kepalsuan atau kebohongan hanya karena untuk gengsi dan prestise. Kejujuran baginya adalah kebenaran dirinya untuk berkonfrontasi dengan dorongan nafsu ammarah yang bertentangan dengan nilai-nilai ilahiyah dalam qolbunya.
Ia akan membeli gelar dengan gelar palsu, karena masyarakat memandang gelar adalah suatu kehormatan. Ia sangat bangga dan merasa terpandang dengan jabatan, padahal dirinya tidak mencerminkan tauladan, keputusannya pun tidak memberikan solusi, bahkan tidak mencerminkan kearifan.

2.      Jujur kepada orang lain
Sikap jujur/tulus kepada orang lain, berarti prihatin melihat penderitaan mereka. Karena seorang shodiq memiliki empati yang kuat dan sikap melayani (sense of stewardship). Sikap melayani juga sama halnya dengan sikap menghubungkan silaturrahim yang intinya berbuat untuk suatu kebaikan. Dalam ajaran Islam orang yang menjalankan silaturrahim memiliki dua nilai, yaitu diluaskan Allah rezkinya dan dipanjangkan (diberkahi) Allah umurnya (hadis muttafaqun 'alaih dari Anas bin Malik ra).
Dalam hubungannya dengan pekerjaan, orang yang jujur akan melahirkan pekerjaan yang energik penuh antusias dan optimisme. Orang yang jujur kepada orang lain adalah orang yang melaksanakan tugas-tugasnya tidak merasa terhambat oleh berbagai kebohongan dilingkungannya yang akan merusak dirinya. Karena mereka menyadari bahwa dalam setiap kebohongan akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan lainnya. Para psikolog membuktikan bahwa kebohongan akan melahirkan penyakit mental, yaitu timbul rasa takut, stress dan merasa dikejar-kejar oleh kebohongan yang dilakukannya yang pada gilirannya akan membawa kepada penyakit psikis yang berakibat terganggunya hubungan antar keluarga, kawan sejawat bahkan masyarakatnya.
Dalam Islam sikap shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah, adalah sikap yang diajarkan Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang dicontohkannya dalam prilaku kehidupan beliau sehari-hari sehingga beliau sangat dikagumi, dicintai, dihormati oleh sahabat-sahabat nya maupun lawan-lawannya. Jika seorang pemikir mengatakan 'aku ada karena aku berfikir', maka orang jujur akan mengatakan, ' aku ada karena aku bersama orang lain untuk menegakkan kebenaran dan kejujuran. Jujur kepada orang lain adalah suatu sikap kerinduan untuk memberi manfaat/kontribusi baik material maupun immaterial, sebagaimana ditamsilkan Allah dalam surah Ibrahim/14 ayat 24-25,
Artinya:
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Dan hadis shohih Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan, 'khoirukum anfauhum linnas'. Sebaik-baik kamu adalah orang yang memberikan manfaat/kontribusi kepada manusia. Bagaikan air suci yang mensucikan, ia tidak hanya ingin memurnikan dirinya sendiri, tetapi ada semacam sacred mission/misi suci untuk mengajak orang lain berbuat benar dan jujur sebagai rasa tanggungjawabnya untuk melangkah menapaki jalan-jalan Allah.

3.       Jujur kepada Allah
Jujur kepada Allah, berarti berbuat dan memberikan segala sesuatu baik dalam ibadah dan bermuamalah karena dan untuk Allah sebagaimana firman-Nya, "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku". Demikian juga dalam surah yang lain al-An'am/6: 162:
Artinya:
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Jujur kepada Allah juga adalah menyangkut hati nurani. Orang yang jujur kepada Allah, bahwa ia merasakan dirinya senantiasa dilihat oleh Allah. Nabi Muhammad Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita dalam beribadah kepada Allah hendaknya kita seolah-olah melihat Allah, jikapun kita tidak dapat melihatNya, niscaya Allah melihat kita. Bagi orang yang jujur kepada Allah, batinnya merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, sehingga tidak akan pernah terlintas dalam pikiran dan qolbunya untuk berbohong. Karena berbohong bagi mereka merupakan pengingkaran yang amat nyata terhadap keimanannya.
Artinya:
Sesungguhnya orang yang mengadakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itu adalah orang-orang pendusta (QS. al-Nahl/16: 105).

Orang yang jujur kepada Allah maka ia akan aplikasikan segala perbuatannya dengan benar dan baik semata-mata karena Allah sebagai konsekwensi dari perkataannya ketika mengucapkan 'inni wajjahtu wajhia lilladzi fatarossamawati wal ardh...' aku hadapkan wajahku kepada Yang Menciptakan langit dan bumi. Orang yang jujur kepada Allah ia tidak akan meminta bantuan dan pertolongan kepada makhluk dalam memenuhi hajat hidupnya.
Ucapan 'iyyakana'budu wa iyya kanasta'in, ihdinash shiratol mustaqim' ia hunjamkan dalam-dalam ke lubuk hatinya, sehingga pernyataan kalam Ilahi itu merupakan komitmen yang secara terus menerus diperjuangkannya agar tidak keluar atau menyimpang dari koridor yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Dengan demikian, amanah (terpercaya dan jujur) yang disimbolkan dengan jari tangan jempol. Acungan jempol menurut masyarakat kita selalu diarahkan bagi mereka yang memiliki sifat jujur ini, bukan karena kedudukannya, bukan pula karena hartanya. 
Dengan membudayanya sikap jujur, hidup kita menjadi bermartabat. Jujur itu hendaknya bukan hanya wacana, tetapi diwujudkan dalam perbuatan nyata. Dengan sikap ini penyalahgunaan formalin, boraks, MSG (mono sodium glumat) dan zat pewarna lainnya, yang dapat menimbulkan dampak kumulatif yang berbahaya bagi kesehatan tidak perlu terjadi. Para pedagang dan pengusaha perlu memperlihatkan sifat al-tajirul amin (pengusaha, pedagang yang amanah), dalam berbagai situasi termasuk tidak menampakkan aji mumpung, sehingga sewa rumah dengan tiba-tiba melambung manakala permintaan menjadi meningkat, begitu juga jenis barang dan jasa lainnya. Harga-harga barang menanjak naik manakala menghadapi momen-momen penting seperti tahun baru, hari raya, kenaikan BBM dan gaji. Harga hewan sembelihan qurban luar biasa meningkat hampir dua kali lipat menjelang lebaran haji, karena permintaan meningkat dan supply terbatas. Bahkan pada momen-momen tertentu, ada pula yang menimbun sehingga harga meroket, demi meraih keuntungan pribadi meskipun mencekik leher masyarakat. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengingatkan kita “Barangsiapa yang menimbun makanan empat puluh hari, maka lepaslah Allah darinya, dan dirinya lepas dari jaminan Allah”. #BalanceLifeTraining ... @akhirudindc

Jumat, 31 Mei 2013

Keseimbangan Akhlak

Keseimbangan Akhlak : Esensi Kejadian Manusia


Akhlâq adalah jamak dari khuluq. Al-Qur'an menyebutkan kata khuluq dalam suatu nada pujian kepada Nabi Muhammad SAW, "Dan engkau sungguh mempunyai akhlak yang agung,” (Q. 68: 4). Kalau nisbat, misalnya “sesuatu itu etis”, tidak pernah disebut sebagai khuluqî, tetapi akhlâqî. Mengapa? Karena di dalam budi pekerti ini ada ingredient yang sangat banyak, yang tidak pernah satu.
Akhlâq yang merupakan jamak dari khuluq adalah satu akar kata dengan khâliq dan makhlûq, dan dari situ akan tampak ada suatu asumsi yang sangat mendasar dalam Islam. Kalau khâliq berarti pencipta dan makhlûq berarti yang diciptakan, maka khalq adalah kata benda kerjanya, yaitu penciptaan (the act of creation). Dari sini terlihat bahwa konsep akhlâq dalam Islam dikaitkan dengan kejadian asal manusia.
Dengan demikian, budi pekerti itu tidak lain adalah esensi dari kejadian manusia itu sendiri. Karena itu untuk menjadi manusia, seseorang harus berakhlak, harus mempunyai budi pekerti luhur. Sebab, itu sebetulnya rancangan atau disain Tuhan tentang manusia. Maka dari itu, di dalam al-Qur'an ada suatu pernyataan yang sangat luhur tentang manusia, yaitu "Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk (taqwîm) yang terbaik," (Q. 95: 4). Taqwîm di sini tidak hanya dari segi fisik, melainkan juga dari segi makârim al-akhlâq (berbagai keluhuran budi), sebagaimana tersirat dalam hadis, “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi”.

Dari segi fisik, manusia memang unik. Maksudnya, ia adalah satu-satunya makhluk yang tegak, sehingga disebut sebagai erectus, homo erectus. Tidak ada makhluk yang tegak seperti manusia. Dan dalam literatur mengenai paleo-antropologi (ilmu mengenai manusia-manusia purba), atau dalam pandangan Darwin, fase yang paling menentukan dalam proses pertumbuhan kera menjadi manusia, ialah ketika kera itu turun dari pohon-pohon dan duduk di sabana lalu membebaskan tangannya dari harus berpegangan kepada ranting. Tangan inilah yang kemudian menjadi stimulator bagi tumbuhnya otak. Ia tidak lagi dipakai untuk berjalan karena kaki yang belakanglah yang berjalan. Kemudian tangan ini, misalnya, mulai dipakai untuk meraih pucuk daun dan sebagainya. Menurut para paleo-antropolog, tahap itu merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pertumbuhan otak manusia.
Bebasnya tangan dari berpegang pada ranting-ranting kemudian diikuti oleh tahap di mana tangan harus dipakai untuk berjalan seperti binatang kaki empat. Dengan demikian manusia pada mulanya adalah binatang berkaki empat juga, di mana tangan merupakan kaki depannya. Tahapan berikutnya, ketika manusia menjadi seperti sekarang ini, dimulai dengan pithecanthropus erectus: phitec berarti kera, anthropus berarti yang bersifat manusia, dan erectus artinya yang tegak. Jadi, manusia kera yang tegak. Lalu mulailah tumbuh otak dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini, yaitu homo-sapien. Karena itu ada yang menafsirkan dengan suatu pendekatan ilmiah atau pseudo-ilmiah, bahwa ahsan-u taqwîm itu dalam bentuk lahir pun sudah kelihatan, yang sekaligus juga menandai keunikan manusia sebagai makhluk, karena manusia merupakan satu-satunya makhluk yang tegak. Bayangkan kalau ada kerbau yang tegak, misalnya, pasti semua orang akan takut.

Dinyatakan dalam al-Quran, “Demi tin dan zaitun, dan bukit Sinai, dan kota ini yang aman, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik,” (Q. 95: 1-4). Menarik bahwa persumpahan Tuhan menggunakan pohon tin, sebab pohon ini merupakan ciri-ciri dari Sinai, dari Timur Tengah, mencakup Laut Tengah yang meliputi Italia, Yunani dan derah-daerah Syiria. Daerah-daerah ini adalah daerah asal mula peradaban manusia. Kemudian pohon zaitun, suatu pohon yang sangat berkah. Dalam al-Qur’an zaitun berarti bekal, yaitu pohon zaitun yang diberkati. Bahwa zaitun adalah sebuah buah yang sangat tinggi nilai gizinya, dan pohonya tahan cuaca, dapat hidup ribuan tahun. Tetapi menurut banyak ahli tafsir, maksud Tuhan bersumpah dengan pohon tin dan pohon zaitun adalah untuk merefleksi dua peradaban yaitu Yunani dan Romawi. Kemudian Gunung Tursina (Sinai) yang bukitnya merupakan tempat Nabi Musa menerima wahyu berupa The Ten Commandements yang disebut Taurat (hukum). Dan maksud “negeri yang aman” adalah Makkah, tempat Nabi Muhammad. Maksud ini semua adalah adanya kontinuitas antarseluruh peradaban, dari Yunani, Romawi, Yudeo-Kristian dengan titik pangkalnya The Ten Commandements, dan dilanjutkan dengan Islam yang terdapat di Makkah. Dan setelah itu dikata­kan bahwa manusia adalah puncak makhluk, seolah untuk mengingatkan bahwa semua peradaban yang ada berdiri di atas dasar konsep manusia sebagai puncak dari makhluk. Maka kalau manusia sudah tidak lagi menghargai dirinya sebagai puncak ciptaan Tuhan berarti, “Kemudian Kami jatuhkan serendah-rendahnya. Kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan, maka bagi mereka pahala yang tiada putusnya,” (Q. 95: 5-6). Bahwa persyara­tan bagi keunggulan harkat dan martabat manusia beradab adalah iman kepada Allah dan berbuat baik.
Manusia menjadi puncak ciptaan karena dia diciptakan menurut gambaran Tuhan, yang tentu tidak bisa diartikan secara harfiah. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa dalam diri manusia selain terdapat unsur nâsût (bersifat psikis biologis) juga terdapat unsur lâhût (besifat ketuhanan). Unsur ketuhanan yang paling penting dalam diri manusia adalah kebebasan dan kemam­puannya untuk melakukan pilihan-pilihan. Hal ini di dalam al-Qur’an dilukiskan sebagai suatu amanat yang pernah ditawarkan Tuhan kepada semua ciptaan tetapi tidak ada yang sanggup kecuali manusia.
            Dalam semacam drama kosmis ketika selesai menciptakan alam kemudian Tuhan menawarkan amanat kepada gunung-gunung, kepada bumi, kepada langit, tetapi semuanya menolak. Dan ketika ditawarkan kepada manusia amanat itu diterima (33:72). Dengan begitu berarti manusia merupakan makhluk yang menanggung resiko, bahwa hidupnya tidak lagi secara otomatis baik dan benar. Baik dan benar kemudian ditentukan melalui pilihan manusia sendiri yang pada gilirannya menjadikan manusia sebagai makhluk moral. Inilah yang menyebabkan manusia menjadi puncak ciptaan Tuhan. Oleh karena itu manusia tidak boleh melihat ke atas kecuali kepada Tuhan dan kepada selain-Nya harus melihat ke bawah dalam arti menyadari hirarki eksistensi, tidak dalam arti menghina. Hal demikian dimaksudkan agar manusia tetap berada di atas. 
#BalanceLife ... @akhirudindc ... Email: akhirudindc@gmail.com

Rabu, 29 Mei 2013

MEMBANGUN KETERATURAN DAN KESEIMBANGAN






MEMBANGUN KETERATURAN DAN KESEIMBANGAN
DENGAN SPIRITUALITAS
Akhirudin DC


Sekarang ini sebetulnya kita sudah mengalami zaman yang agak anomali, karena peradabannya berpusat di Eropa Barat yang dulu merupakan daerah pinggiran. Daerah tengahnya seputar Laut Tengah terutama yang terbentang dari Sungai Nil sampai dengan Sungai Oxus. Di luar sungai Oxus--yang oleh orang Inggris disebut Transoxiana yang artinya di seberang sungai Oxus, dan sebenarnya terjemahan dari bahasa Arab “mâ warâ’-a al-nahr” (daerah di belakang sungai)--ialah “daerah yang tidak berperadaban”. Atau, mirip dengan istilah “gentile” dalam bahasa Yunani. Orang Yahudi suka menamakan diri mereka sebagai “the choosen people” (bangsa yang dipilih), dan orang lain sebagai “gentile”, yang artinya kurang lebih kasar, najis, masuk neraka. Sebetulnya ini biasa karena hampir semua bangsa punya stereotip semacam itu. Orang Cina, misalnya, menamakan diri mereka Tionghoa atau Tiongkok yang artinya daerah tengah. Kalau itu daerah tengah, berarti yang lainnya pinggiran. Ada suatu konsep kosmologis bahwa “daerah tengah” berhak mendahulukan daerah pinggiran. Maka kalau RRC mencoba-coba mengklaim kepulauan Spratly, dan kemudian sudah mulai merembet ke Natuna, tidak lain adalah karena konsep “daerah tengah”-nya itu. Orang Jawa pun begitu. Mereka percaya bahwa pusat dunia ada di gunung Tidar (Magelang), yang lainnya cuma pinggiran saja. 

Daerah yang oleh orang Yunani kuno disebut pusat peradaban yaitu yang terbentang dari lembah sungai Nil sampai sungai Oxus itulah yang disebut Oikoumene (istilah itu sekarang menjadi jargon dalam agama Kristen yang artinya suatu gerakan nonsektarian). Orang Arab menyebutnya al-Dâ’irah al-Ma‘mûrah. Di sinilah bisa dilihat mengapa Ibn Khaldun menyebut ilmunya sebagai ‘ilm ‘umran (ilmu peradaban). Lalu bisa juga dilihat bagaimana Islam terkait dengan konsep-konsep ini, melalui berbagai jembatan.
Hadlârah dan tsaqâfah sedikit banyak dibentuk oleh lingkungan dan pola kehidupan di padang pasir, yang membedakan antara kehidupan mengembara dengan kehidupan menetap. Kalau di Indonesia hampir sama dengan konsep urban dan rural. Di sinilah bisa ditafsirkan mengapa Nabi begitu pindah ke Yastrib lalu mengubah nama kota itu menjadi Madinah. Secara sosiologis biasa ditafsirkan bahwa Nabi hendak menciptakan peradaban. Tetapi ada lagi asosiasi yang lain, yaitu adagium orang Yunani bahwa manusia adalah zoon politicon (manusia adalah makhluk politik). Lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yaitu, al-insân-u madanîyun bi ‘l-thab‘i, bahwa manusia itu menurut takdirnya bersifat “ingin hidup teratur”. Makhluk yang paling sosial di samping manusia adalah semut. Komunitas semut itu ternyata sangat kompleks, karena di situ ada pembagian kerja yang bagus; ada semut pekerja (the workers) yaitu yang kepalanya besar-besar, dan ada semut yang tugasnya hanya bertelur. Itulah sebabnya semut disebut makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial atau politik, menurut nature-nya, manusia harus hidup beradab atau bermasyarakat. Madanîyah yang artinya civilization itu sebetulnya juga berarti politik. Perkataan politik waktu itu diambil dari perkataan polish yang berarti pola kehidupan yang teratur (sebelum orang mengartikan politik sebagai ‘suka menipu orang’ seperti sekarang ini). Dalam bahasa Arab, politik adalah siyâsah yang juga biasa diartikan sebagai strategi dan taktik. Kata siyâsah ini bisa diasosiasikan dalam perkataan Indonesia sais (dari bahasa Arab, sâ’is-un), yang artinya orang yang mengendalikan. Jadi siyâsah artinya ilmu atau metode mengendalikan manusia. Lalu kata benda pelakunya sâ’is-un. Karena itu peradaban, politik, dan kebudayaan, ialah bagian dari kehidupan manusia. Karena itu pula Islam tidak bisa dipisahkan dari semuanya; itu adalah wujud kehidupan manusia yang kemudian mengejawantah dalam ruang dan waktu yang disebut sejarah. Sejarah, dengan demikian, tidak lain adalah wujud dari pengalaman manusia untuk berperadaban dan berkebudayaan.
 Tuhan menciptakan manusia terdiri dari tiga unsur bertingkat, yaitu jasmani, ruhani dan nafsani. Tingkat terendah adalah jasmani, yaitu fisik, badan manusia yang kelihatan sehari-hari. Tingkat yang lebih tinggi adalah nafsani (Arab: nafsânî), yaitu unsur manusia yang bersifat nafs, psikologi, jiwa. Tingkat yang paling tinggi adalah ruhani (Arab: hânî), yang bersifat ruh. Istilah-istilah ini penting, sebagaimana kebaha­giaan dan kesengsaraan juga tiga tingkat, begitu juga pengalaman-pengalamannya. Ada pengalaman jasma­ni yang tidak sampai pada tingkat nafsani, sehingga secara jasmani orang tampak bahagia tetapi jiwanya sakit. Meskipun yang demikian ini ditolak dalam psikologi karena ada istilah psikosomatik, yaitu sakitnya badan oleh karena sakitnya jiwa, tetapi bagi bukan psikolog sakit badannya itu tidak begitu tampak.
Meningkat lagi, ada juga orang yang secara psi­kologis sehat tetapi secara spiritual sakit sehingga menyebabkan, misalnya, ketidaksadaran tentang benar dan salah. Ada situasi ketika kita mengalami tingkat perkembangan ruhani begitu rupa sehingga tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, antara benar dan salah. Inilah yang disebut al-Qur’an sebagai keburukan telah dihiaskan dalam diri kita, “Adakah orang yang pekerjaannya, buruk dibayangkan baik lalu menjadi baik (sama dengan orang yang mendapat bimbingan) (apakah orang yang dihiaskan badannya, kejahatannya sehingga kelihatan baik)?,” (Q. 35: 8). Dengan perkataan lain, kalau kita sudah mulai melihat kejaha­tan sebagai yang baik, itu adalah kebangkrutan ruhani, dan sebenarnya merupakan kesengsaraan yang tertinggi. Sebagaimana kesengsaraan nafsani yang tidak selalu tampak pada jasmani, kebangkrutan spiritual juga tidak selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari. 
Pertanyaannya kemudian adalah kapan orang akan merasakan efek dari kebangkru­tan spiritual? Kalau sudah kembali ke alam ruhani, yaitu setelah mati. Tetapi di dunia ini sebenarnya sudah mulai terasa efeknya. Hal ini seba­gaimana yang disinyalir psikolog bahwa kesehatan psikologis punya efek kepada kesehatan jasmani, maka begitu juga kesehatan ruhani punya efek kepada kesehatan nafsani maupun jasmani meskipun tidak langsung. Artinya, kebahagiaan dan kesengsaraan itu juga bisa kita rasakan sekarang ini meskipun tidak dalam ukuran yang sepenuhnya.
 #HidupSeimbang... @akhirudindc / akhirudindc@gmail.com

Selasa, 28 Mei 2013

Shalat Membentuk Akhlak Manusia


Shalat Membentuk Akhlak Manusia

QS. Ali Imran: 159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Seluruh ibadat dalam Islam mempunyai tujuan untuk membina hubungan kita dengan Allah. Hubungan itu akan menjadi intensif kalau kita menghayati Tuhan melalui nama-nama-Nya atau sifat-sifat-Nya yang baik. Allah kita hadirkan dalam bentuk kualitas-kualitas, agar kualitas-kualitas tersebut tertransfer ke dalam diri kita, dan kita akan mengalami pengembangan pribadi yang sempurna. Tetapi, sifat Allah yang paling dominan dari semua sifat-Nya adalah sifat kasih (rahmah). Dalam al-Qur'an Allah berfirman, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu,” (Q. 7: 156). Malah di antara semua sifat Allah, yang oleh Allah sendiri dilukiskan sebagai diwajibkan atas diri-Nya sendiri hanyalah kasih, “Ia telah menentukan dalam Diri-Nya sifat kasih sayang,” (Q. 6: 12). Dari akar kata rahmah itulah muncul rahmân dan rahîm, yang paling banyak kita sebut dalam rangkaian bism-i ‘l-Lâh-i ‘l-rahmân-i ‘l-rahîm. Karena itu, kalau dalam doa kita tidak bisa menghadirkan Tuhan melalui kualitas-kualitas yang tersimpul dalam nama-nama yang baik, yang setelah dihitung-hitung konon berjumlah 99, maka sebetulnya menghayati Tuhan melalui sifat-Nya Yang Mahakasih itu saja--dengan segala pengertiannya yang luas--sudah cukup. Diharapkan bahwa kualitas-kualitas seperti itu kemudian tertransfer ke dalam diri kita, sehingga menjadi bagian dari bahan untuk mengembangkan kepribadian kita. Inilah akhlak Ilahi, moralitas ketuhanan.
Dari sini kita mengenal istilah yang memperkaya kebudayaan kita sendiri, yaitu “manusia seutuhnya”. Manusia akan utuh hanya apabila dia mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, apabila dia memenuhi perintah Allah. Sebaliknya, bagi orang yang lupa kepada Tuhan, maka dia tidak mungkin akan menjadi manusia yang integral, manusia yang utuh. Allah memperingatkan dalam al-Qur’an, “Dan janganlah seperti mereka yang melupakan Allah, dan Allah akan membuat mereka lupa akan diri sendiri,” (Q. 59: 19). Artinya, kalau kita lupa kepada Allah, maka kita akan lupa kepada diri kita sendiri. Bukan berarti lupa daratan, tetapi artinya kita kehilangan makna hidup kita, kita kehilangan tujuan hidup kita, kita kehilangan integritas kepribadian kita. Sebab kita tidak berhasil mengaitkan wujud kita dengan wujud Yang Mahatinggi, yaitu Allah. Apalagi pada dasarnya manusia tidak mungkin--dan tidak akan kuat--hidup sendirian. Mengapa kita tahan hidup, itu tidak lain adalah karena adanya harapan.
Salah satu fungsi adanya iman kepada Allah adalah harapan. Maka dari itu Allah dilukiskan sebagai al-shamad (tempat menggantungkan harapan). Kalau orang lupa kepada Allah, salah satu akibat yang akan berat sekali ditanggungnya ialah hilangnya harapan, dan itu akan membuat hidupnya sengsara. Jadi harapan adalah bagian dari iman; dan putus harapan adalah bagian dari kekafiran. Allah juga mengingatkan kita, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, tak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang tak beriman,” (Q. 12: 87). Maka, sekali lagi, manusia yang utuh, manusia yang integral, adalah manusia yang sanggup membina hubungan dengan Allah.
Sebetulnya, masalah ini juga berkaitan dengan ajaran mengenai percaya kepada takdir. Kita tahu bahwa rukun iman yang terakhir adalah percaya kepada qada dan qadar. Tetapi barangkali perlu kita ingatkan bahwa percaya kepada qada dan qadar itu berkenaan dengan masa lampau yang sudah tertutup. Adapun yang berkenaan dengan masa depan yang masih bersifat terbuka, kaitannya bukan dengan qada dan qadar, tetapi dengan kewajiban ikhtiar. Ikhtiar artinya memilih, memilih di antara berbagai kemungkinan yang tersedia di depan kita.  
Mengapa untuk masa lampau (sesuatu yang sudah terjadi) kita harus percaya pada qada dan qadar? Itu sebetulnya untuk kepentingan kesehatan ruhani, kesehatan mental kita sendiri. Itu secara tegas memang difirmankan dalam al-Qur’an, “Setiap ada musibah terjadi di bumi dan dalam dirimu, sudah tercatat sebelum Kami mewujudkannya,” (Q. 57: 22). Jadi ada predestination. Lalu bagaimana ini bisa terjadi, ayat tersebut selanjutnya menjawab, “Sungguh itu bagi Allah mudah sekali,” (Q. 57: 22). Kalimat terakhir ini menjelaskan bahwa memang kita mungkin tidak bisa memahaminya, karena itu rahasia Tuhan. Tetapi yang lebih penting untuk kita perhatikan mengapa Allah membuat ketetapan seperti itu adalah, “Agas kamu tidak berduka cita atas apa yang sudah hilang, dan merasa bangga atas apa yang diberikan,” (Q. 57: 23). 
Artinya, kalau kita gagal tidak boleh berputus asa, dan kalau berhasil tidak boleh sombong. Dari situ kita akan menjadi manusia yang balance, seimbang. Ini penting sekali untuk kesehatan kita. Jadi dalam iman kepada qada dan qadar, juga tersangkut harapan kepada Allah. #TrainingBalanceLife @akhirudindc